September 19, 2007 at 2:45 pm (kelam, puisi)
Tags: kelam, puisi
Langit kelam,
tak ada kerlip cahaya disana.
Seakan tertidur pulas tak menghiraukan bumi.
Bumi yang permukaannya sesak padat.
Dengan bangunan yang berlomba menyentuh ketinggian.
Bersaing mencipta bintang warna warni,
dari cahaya berpijar bertenaga listrik.
Kebisingan coba dihantar kesana.
Kebisingan manusia bekerja,
lalu lalang manusia berkendara,
atau hanya sekedar manusia bersendawa.
Berkubik awan pun diciptakan,
dengan warna pekat keabuan,
ditiup tinggi kuat-kuat.
Bumi tidak pernah tidur.
Tapi langit tetap terdiam dalam lelap.
Leave a Comment
September 15, 2007 at 8:04 am (kelam, puisi)
Tags: kelam, puisi
 |
Wessstt… (terbuka)
Brakkk!!! (tertutup)
Kriyeeekk… (terbuka)
Brakkk!!! (tertutup)
Kriyeekk..kyeek.. (terbuka)
Brakkk!!! (tertutup)
…
… (sunyi)
Tok..tok..tokk… (diketuk)
Masi adakah sesuatu
dibalik pintu rusak ini?
|
Leave a Comment
August 13, 2007 at 7:09 pm (kelam, puisi)
sore ini,
nada yang dulu menghangatkan telinga,
telah dibekukan pendingin ruangan.
sore tadi,
suara yang dulu menggetarkan jiwa,
mampu terbunuh bising deru ruang.
salahkah aku,
bila tak lagi kurindu manjamu?
dosakah aku?
maaf.
tapi tak ada lagi yang bisa kau perbuat.
sekali lagi ku katakan,
maaf.
Leave a Comment