September 30, 2008 at 7:18 am (pijar, puisi)
Sesosok malaikat bertanya,
mengapa bisa aku jatuh cinta padanya.
Sungguh, aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu!
Haruskah cinta memiliki alasan?
Haruskah sesuatu yang begitu indah memiliki sebab?
Sungguh, aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu!
Yang aku ingin hanya merasa,
yang aku ingin hanya mencinta.
Leave a Comment
September 22, 2007 at 8:53 pm (pijar, puisi)
Aku adalah apapun aku adanya.
Aku akan tetap menjadi aku,
tetapi tidak lagi seperti diriku.
Dan batu-batu itu disusun,
ditegakan sebagai tanda,
tonggak dari sebuah kematian.
Hanya ini yang menjadi nisanku,
diam bagai kematian yang terpaku,
dari beribu masa lalu.
Aku kan terbang bersama angin.
Pergi menangkap asa di pagi hari.
Kini, kan aku genggam ia,
dengan kedua tangganku.
Leave a Comment
September 21, 2007 at 7:50 pm (pijar, puisi)
Tags: pijar, puisi
Ada denting dawai mengalun dikepalaku.
Begitu nyata dan menakjubkan.
Penuh mantra yang menghanyutkan.
Memenuhi diri dengan damai.
Damai yang begitu lama hilang;
yang telah menjelma menjadi kerinduan,
seperti kerinduan sepasang kekasih baru.
Dan malam ini
: pelupukku terlelap, tanpa kengerian..
Leave a Comment