Anatomi Cinta

Like This!

aku bukan diriku…
ya! semenjak cintamu menguasai aku.

harum tubuhmu, menyelinap memasuki paru-paruku,
terikat bersama oksigen dalam respiratory protein,
dan mengalir kesetiap pembuluh kapilerku.

manja suaramu, tak hanya mampu menggerakan ossicle,
tapi berdiam di cohlea dan memblokir semua suara lainnya,
hanya satu sinyal yang terkirim menuju otak, milikmu.

sentuhanmu, menguasai cerebal cortexku,
menstimulus milyaran neuron untuk menegirimkan sinyal kebahagiaan,
tersebar kesekujur jasad melalui fiber protoplamik.

cintamu, menyusun sistem pertahanan netrofil dan makrofag,
mengalir bersama leukosit didalam setiap aortaku,
memusnahkan setiap virus kedukaan dan bakteri kehampaan.

lalu, bagaimana mungkin jasad ini hidup tanpa dirimu?

Add to FacebookAdd to DiggAdd to Del.icio.usAdd to StumbleuponAdd to RedditAdd to BlinklistAdd to TwitterAdd to TechnoratiAdd to Yahoo BuzzAdd to Newsvine


Rasa, ataukah logika?

Sesosok malaikat bertanya,
mengapa bisa aku jatuh cinta padanya.
Sungguh, aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu!

Haruskah cinta memiliki alasan?
Haruskah sesuatu yang begitu indah memiliki sebab?

Sungguh, aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu!
Yang aku ingin hanya merasa,
yang aku ingin hanya mencinta.


Batu kematian

Aku adalah apapun aku adanya.
Aku akan tetap menjadi aku,
tetapi tidak lagi seperti diriku.

Dan batu-batu itu disusun,
ditegakan sebagai tanda,
tonggak dari sebuah kematian.

Hanya ini yang menjadi nisanku,
diam bagai kematian yang terpaku,
dari beribu masa lalu.

Aku kan terbang bersama angin.
Pergi menangkap asa di pagi hari.
Kini, kan aku genggam ia,
dengan kedua tangganku.


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.